Pages

  • Home
  • Diary Pages
  • Pregnancy Journey
  • Motherhood
  • Beauty
  • Travel
linkedin twitter instagram
Diary of Shalom Audrey
    • Diary Pages
    • Pregnancy Journey
    • Motherhood
    • Beauty
    • Travel

    Saya cukup surprise karena topik parenting menjadi salah satu topik yang ingin dibahas di artikel diaryofshalomaudreyblogspot berdasarkan question yang saya ajukan di Instagram beberapa waktu lalu. Di tulisan kali ini, saya akan share sedikit mengenai pengalaman saya dalam proses memahami Shalom yang usianya akan menginjak 4 tahun di bulan September nanti.


    Setidaknya ada 5 hal yang saya observed pada usia tumbuh kembang Shalom saat ini. Beberapa tips juga ditulis berdasarkan pengalaman yang saya alami selama menjalani peran sebagai orangtua.

    1.Sudah semakin mengerti petunjuk dan arahan. Saat yang tepat untuk memberikan aturan/value positif dan mengajarkan kedisplinan pada anak. Hal-hal sederhana yang saya lihat pada Shalom seperti menaruh sepatu / sandal pada tempatnya setelah bepergian dari luar. Sudah mulai disiplin mengembalikan mainan ke tempatnya setelah selesai bermain. Belajar untuk buang air kecil dan air besar di kamar mandi, dan juga belajar menyikat gigi sendiri sebelum tidur.

    Walau terkadang, saya masih harus strugle untuk mengarahkannya untuk tidak cepat menangis ketika keinginannya tidak terpenuhi saat itu juga. Masih belum bisa 100% belajar sharing ketika sedang bermain bersama teman-temannya yang lain. Dan masih banyak lagi arahan positif yang harus terus saya ajarkan pada Shalom. 

    "Kuncinya adalah konsistensi dan sebagai orangtua kita harus menjadi role model bagi anak kita"

    2. Mulai berpikir kritis dengan bertanya hal-hal baru, misalnya : Ini benda apa mama? Untuk apa? Bolehkah saya melakukan ini? Kenapa boleh? Kenapa tidak boleh? 


    "Orangtua dituntut untuk lebih sabar untuk mendengar ketika anak bertanya dan selalu menjawab pertanyaan dengan benar dan bahasa yang lebih mudah dimengerti"

    Saya akui, saat sudah mulai merasa lelah, terkadang saya menjadi tidak sabar dan akhirnya timbul rasa emosi. Percayalah, semua ibu-ibu pun pernah merasakan hal ini. Jika hal ini terjadi, saya berusaha untuk menarik napas dalam-dalam, calm down dan akhirnya kembali mencoba untuk berbicara dari hati ke hati dengan lebih sabar. Nobody’s perfect, right? 

    3. Karakter / watak semakin terbentuk seiring pertambahan usia. Saya yakin, secara natural seorang anak sudah punya karakter masing-masing yang di anugerahkan oleh Tuhan. 

    "Sebagai orang tua, kita diberi mandat untuk membesarkan anak-anak dengan penuh cinta dan kasih"



    Kemauan keras Shalom yang saya lihat sejak kecil, semakin terlihat jelas di usianya sekarang. Saya dan Marthin dituntut untuk bisa mengarahkan karakter tersebut tersebut ke hal yang positif. Mengajarkan kesabaran karena tidak semua kemauannya harus terpenuhi saat itu juga dan belajar untuk mengenal yang namanya "proses" dan mengingatkan segala sesuatu tidak didapat dengan cara yang instant.  Walau saya tahu, bahwa ini bukan hal yang mudah. 

    4. Pintar bernegosiasi & tawar menawar (bargain) ketika mempunyai sebuah keinginan. Contoh kecilnya adalah ketika pergi ke sebuah toko mainan yang ada di mall. Biasanya anak akan meminta dibelikan mainan, dan mereka akan bertanya “boleh beli ga, mama?” atau “boleh beli yang ini ga, papa?”. Nah, kalau sudah begini sikap apa yang akan dipilih oleh orangtua? Anak akan terus melakukan negosiasi dengan orangtua hingga keinginannya tercapai. 
    Atau hal sederhana lain, "mama, bolehkah Shalom tidak makan nasi? tapi makan cookies atau susu saja?", " bolehkah Shalom main handphone, ma?



     "Sebagai orangtua, kita dituntut untuk lebih bijak dan menerapkan value "konsistensi" untuk setiap keputusan yang kita ambil kepada anak"

    5. Menunjukkan interest/ bakat yang bisa dikembangkan. Percayalah, setiap orangtua pasti akan memberikan yang terbaik untuk anak mereka masing-masing. Dan saya juga yakin, anak pun terlahir dengan bakat/talent yang diberikan oleh Tuhan.  




    "Orangtua harus belajar lebih peka dan mengarahkan bakat dan minat anak untuk dikembangkan menjadi sesuatu hal yang positif di kemudian hari"

    Sudah seberapa dalam kita memahami anak? Semoga setiap orang tua diberikan hikmat untuk mendidik anak dan mempersiapkan masa depan yang gemilang sebagai generasi penerus kita kelak.

    Terimakasih sudah membaca tulisan ini:)




    Continue Reading

    Pernah kebayang ga bagaimana rasanya menjalani pernikahan bersama dengan pasangan kita selama 40 tahun? Pastinya begitu banyak kisah hidup yang dilewati selama kurun waktu tersebut ya. 


    Minggu lalu saya, Marthin dan Shalom pergi ke Bandung untuk menghadiri acara syukuran ulangtahun pernikahan bapak dan ibu mertua saya yang ke-40. Acaranya cukup sederhana dengan mengundang hanya keluarga dekat dan teman dari Gereja saja. Namun hal tersebut tidak mengurangi rasa syukur dan kebahagian keluarga besar atas penyertaan Tuhan selama 40 tahun pernikahan orangtua kami.




    Saya dan Marthin belajar dari kedua orangtua kami tentang bagaimana mereka bisa mempertahankan kehidupan rumah tangga sehingga bisa terus bersama di dalam suka maupun duka. “Kehidupan ini tidak ada yang mulus”. Kata-kata tersebut yang selalu ibu mertua saya katakan jika saya bertanya bagaimana tips menjalani pernikahan. Sebagai istri, kita dituntut untuk sabar dalam menghadapi suami dan anak-anak serta terus berdoa kepada Tuhan agar dikuatkan menjalani kehidupan pernikahan.

    Saya sadar sekali bahwa menyatukan dua sosok manusia yang berbeda karakter bukanlah hal mudah. Belum lagi value yang dibawa dari keluarga masing-masing dari sejak kecil pastilah berbeda. Dulu saat awal pernikahan, saya merasa saya lebih emosional, cepat sekali marah dan mudah ngambek. Marthin sangat sabar menghadapi tingkah saya saat itu. Seiring dengan kedewasaan berpikir, saya merasa saat ini saya lebih bisa calm down jika menghadapi masalah dan tidak gampang ngambekan seperti dulu lagi. 


    Di dalam hidup pernikahan saya belajar menghargai perbedaan, belajar untuk menerima pasangan apa adanya. Saya belajar untuk mengasihi tanpa syarat, berkorban untuk sesuatu hal yang lebih baik. Begitu juga sebaliknya, Marthin juga belajar untuk menjadi sosok suami yang lebih bertanggung jawab terhadap keluarga dan selalu berusaha membuat kami bangga atas semua prestasinya di kantor ataupun di kehidupan sosial.

    Saya dan Marthin selalu menerapkan keterbukaan dan komunikasi dalam perjalanan pernikahan kami. Terbuka dengan perasaan yang dialami saat ini dan terus berkomunikasi di tengah-tengah aktivitas yang kami kerjakan. Kalau pun ada berantemnya, anggap saja itu sebagai bumbu pemanis yang membuat hubungan kita semakin berwarna. Kalau kita memandang pernikahan itu rumit, pasti menjalaninya juga menjadi rumit. Tetapi kalau dibawa enjoy, bawaannya akan happy terus, bahkan saling merindukan bila jauh satu sama lain. 


    Orangtua kami akan terus menjadi role model dalam kehidupan pernikahan kami. Doa saya dan Marthin agar kedua orangtua kami terus sehat dan kami berdua juga diberikan kesehatan agar bisa menempuh pernikahan sampai 40 tahun bahkan lebih bersama anak cucu kami kelak. Amin.

    Terimakasih yah sudah mampir ke tulisan saya ini :)
    Continue Reading

    Ternyata mengajak Shalom potong rambut tidaklah mudah. Sejak Shalom lahir, saya dan Marthin sepakat tidak memotong rambut Shalom dikarenakan rambutnya yang cukup tebal dan kami khawatir kalau dipotong akan butuh waktu yang lama untuk tumbuh kembali. Karena tidak terbiasa dengan potong rambut sehingga sangat sulit untuk mengajak Shalom pergi ke salon. Tidak hanya itu saja, drama air mata dan jeritan tiada akhir pasti akan keluar bila mendengar kata "potong rambut". 

    Dua minggu lalu saat kami jalan-jalan ke Pekanbaru, saya dan Marthin menyempatkan untuk mampir ke salon, sekaligus mengajak Shalom untuk potong rambut. Tetapi misi kami kurang berhasil karena hanya saya dan Marthin berhasil potong rambut, sedangkan Shalom hanya bisa menjerit sangat kencang sampai semua orang yang ada di salon menatap saya dengan tajam. Setelah melihat bahwa jeritan tersebut hanyalah ajakan seorang ibu kepada anaknya untuk memotong rambut, orang-orang hanya tersenyum melihat kami berdua saat itu.



    Akhirnya setelah dibujuk rayu, Shalom pun berhasil untuk potong rambut. Tapi yang dipotong hanya poni nya saja. Untuk bagian lainnya, doski udah terlanjut menjerit kencang kembali.



    Sesampainya di kasir untuk membayar tagihan potong rambut, saya pun dibuat kaget karena untuk memotong poni saja dikenakan biaya 45,000. Dasar emak-emak, keluar dari salon malah ngedumel dalam hati karena biaya nya cukup mahal bagi saya. Saya berpikir, kalau untuk memotong poni saja, saya sendiri juga bisa kok. 


    **
    Sampai pada suatu sore..
    Setelah saya selesai memandikan Shalom, iseng-iseng saya mengambil gunting rambut lalu mengajak Shalom duduk lalu mencoba untuk memotong rambutnya. Wah surprise banget, Shalom dapat duduk dengan tenang dan sadar kalau saat itu saya sedang berusaha menggunting rambutnya. Marthin pun ikut membantu saya memegang rambut Shalom dan akhirnya kami sukses memotong rambut Shalom menjadi lebih pendek. 





    Di luar apa yang pernah saya bayangkan sebelumnya, saya berhasil memotong rambut Shalom sendiri tanpa harus pergi ke salon. Yang pasti, rambutnya kini tampak lebih rapi dan wajahnya terlihat semakin lucu dan imut-imut.


    Sedikit pembelajaran dari kisah Shalom ini, yang perlu jadi lesson learned adalah :
    1. Rambut yang tumbuh sejak lahir sebaiknya dipotong, karena dengan dipotong maka pertumbuhan rambut anak semakin lebih cepat dan lebat. Pemahaman kami selama ini ternyata salah.
    2. Mengajak anak ke salon sedini mungkin agar terbiasa untuk memotong rambut.
    3. Buat suasana yang nyaman dan tenang bila ingin mengajak anak potong rambut, jangan sekali memaksakan anak karena hanya berakhir dengan sia-sia. 
    4. Lebih baik memilih salon yang memang dikhususkan untuk anak-anak. Selain merasa nyaman, para petugas pun terbiasa untuk menangani anak-anak. 
    5. Jika memang terpaksa harus memotong rambut anak sendiri, pastikan ada asisten yang membantu memegang anak kita yah.

    Terimakasih sudah mampir ke tulisan saya kali ini :)
    Continue Reading


    Shalom sudah semakin besar. Tidak terasa usianya sudah memasuki bulan yang ke 33 atau berumur 2 tahun 9 bulan. Waktu berjalan dengan sangat cepat dan bersyukur melihat tumbuh kembangnya yang sempurna. Puji Tuhan, Shalom tumbuh menjadi anak yang sehat, pintar dan menggemaskan.

    Sebenarnya saya dan Marthin cukup struggle dengan pola asuh Shalom sejak memasuki usia yang ke 2 tahun. Karena di usia ini lah, karakter anak mulai terbentuk dan sebagai orang tua kami punya kewajiban untuk mengajarkan hal baik kepada Shalom. Kami ingin Shalom bisa tumbuh menjadi anak yang tidak hanya pintar, tetapi lebih dari itu adalah mempunyai kepribadian yang baik.

    Di tulisan kali ini, saya mau berbagi hal baik yang saya dan Marthin ajarkan pada Shalom. Walaupun masih banyak PR dalam hal parenting, tetapi kami berdua sepakat untuk terus belajar menjadi orangtua yang baik. Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi dan sama sekali bukan untuk menggurui, tetapi tujuannya agar dapat berbagi kepada teman-teman semua.

    1.Mengucapkan “Thank You”
    Kata thank you yang berarti terimakasih sudah menjadi hal dasar yang saya dan Marthin ajarkan kepada Shalom. Bila ada seseorang yang membantunya, Shalom akan mengucapkan “thank you”. Contoh sederhana lainya seperti mengucapkan terimakasih bila dibelikan mainan oleh mama dan papa, dan berterimakasih bila diberi makanan kesukaan. Pastikan kita sebagai orangtua mengajarkan pentingnya arti terimakasih  sedini mungkin. 


    2. Say “Sorry”
    Jika melakukan hal yang dilarang oleh kedua orangtuanya, Shalom sudah bisa berkata “sorry”. Walaupun setelah mengatakan maaf, tetap saja dia akan mengulangi kembali kesalahannya. Memang bukanlah hal mudah untuk mengajarkan arti “maaf”. Jika diajarkan terus menerus pada anak, maka akan menjadi kebiasaan yang baik sampai mereka besar nanti. 

    Suatu waktu, Shalom ketahuan sedang menggunakan alat make up saya dan membuat berantakan area meja rias. Ketika saya menghampiri Shalom, dia menyadari bahwa dia sudah membuat kesalahan dan selanjutnya dia pun meminta maaf pada saya. "Mama, sorry mama" kata Shalom.



    3. Memberikan Salam
    Salam yang dimaksud adalah memberikan sebuah salam dengan jabatan tangan dan terkadang mencium tangan orang yang dijabat tangannya. Walaupun kalau ketemu dengan orang baru Shalom punya kecenderungan takut, tetapi saya lihat dia berusaha untuk memberi salam kepada orang baru tersebut dan selanjutnya mencoba untuk mingle.


    4. Menggosok gigi saat mandi dan sebelum tidur
    Shalom sudah dibiasakan menggosok gigi sejak gigi pertamanya tumbuh, yaitu sekitar usia 6 bulan. Awalnya memang sulit, tetapi karena dibiasakan setiap mandi dia akan minta gosok gigi dan sekarang sudah bisa menggosok gigi sendiri.



    5. Belajar "bersih-bersih" mainan setelah selesai bermain
    Kebiasaan satu ini bisa dibilang susah-susah gampang. Terkadang Shalom punya inisiatif sendiri untuk merapikan barang-barang setelah dimainkan, tetapi kadang harus disuruh atau diberi sedikit intonasi suara agar dia mau membersihkan mainan. Karena usia Shalom sudah besar, saya rasa anak sudah bisa diberi tanggung jawab untuk belajar bersih-bersih.



    6. Berdoa sebelum makan dan tidur
    Doa adalah hal yang sangat penting bagi saya dan Marthin. Puji Tuhan di usianya yang sekarang ini Shalom sudah pintar berdoa sendiri. Sejak kecil, saya mengajarkannya "Doa Bapa Kami" dengan media buku. Buku ini menjadi buku wajib dibaca sebelum tidur. 





    7. Makan dengan posisi duduk, bukan sambil berlari-lari
    Sejak MPASI dimulai, Shalom sudah kami biasakan untuk duduk di kursi. Kebiasaan ini kami teruskan sampai sekarang, sehingga bila sedang makan maka Shalom harus duduk rapi. Jika Shalom mulai jalan atau berlari-lari, kami memberhentikan dahulu kegiatan makannya dan menyuruhnya kembali untuk duduk. So far, praktek ini berhasil kami ajarkan kepada Shalom dan merupakan salah satu bentuk kedisiplinan yang kami terapkan.


    8. Belajar Sharing/ berbagi dengan orang lain
    Dalam interaksinya dengan orang lain, saya dan Marthin selalu mengajarkan Shalom untuk berbagi, antara lain : berbagi mainan, makanan, buku, dll. Hal ini masih belum 100% bisa dilakukan oleh Shalom, tetapi kami terus mengingatkan Shalom agar terhindar dari sifat egois dan mau menang sendiri.





    9. Memiliki kebiasaan makan sayur, buah dan minum jus
    Bagi saya kebiasaan ini sangat penting, karena saya yakin dengan mengkonsumsi buah dan sayur akan memberikan manfaat yang baik bagi metabolisme tubuh Shalom. Kebiasaan ini sudah saya ajarkan sejak Shalom kecil, dan sampai saat ini makan sayur, buah dan minum jus adalah aktivitas wajib setiap hari.

    10. Kebiasaan membaca buku
    Kalau sering lihat postingan saya di Instagram, akan sering melihat Shalom dengan buku bacaan. Kebiasaan baik ini sudah saya dan Marthin praktekkan bersama Shalom sejak dia kecil. Alhasil, membaca sudah menjadi kegiatan yang tidak pernah di skip setiap hari.




    Kesimpulannya adalah hal dasar yang kita ajarkan kepada anak berkaitan dengan sopan santun, kebaikan pada orang lain, tanggung jawab, kebersihan dan terpenting adalah sikap takut akan Tuhan.

    source : pinterest.com
    Bagi para orangtua, yuk kita terus mengajarkan hal yang baik pada anak-anak kita. Thanks for reading :) 

    Continue Reading

    "Yeay, happy package has just arrived".. Shalom terlihat excited melihat beberapa box besar tiba di depan pintu rumah. 
    Tanpa menunggu lama, langsung saja dia meminta bantuanku untuk membuka box besar tersebut. 


    Ternyata box besar tersebut berisi buku-buku bacaan yang beberapa bulan lalu saya beli salah satu Jasa Titip Jakarta Big Bad Wolf Event.

    Ini sudah kali ketiga aku ikutan Big Bad Wolf (BBW) Event dan tidak pernah merasa menyesal membeli buku bacaan setiap event ini berlangsung karena harganya cukup affordable.



    Buku yang aku pilih untuk Shalom adalah buku-buku stiker, activity book seperti wipe and clean dan puzzle. Selain itu aku juga membeli beberapa buku cerita anak Indonesia, dan yang tidak boleh lupa adalah buku Peppa Pig yang jadi kesukaan Shalom.

    Hari itu Shalom bahagia banget. Yang juga menarik perhatiannya adalah Doc McStuffins Dress-Up Toy atau jaman aku kecil dikenal dengan mainan bongkar pasang. Permainan ini sangat disukai oleh Shalom dan bisa membuatnya betah bermain seharian karena sibuk untuk mencocokkan baju, celana, sepatu dan juga aksesoris Doc McStuffins. 



    Buku adalah jendela ilmu. Membiasakan Shalom untuk suka membaca sudah aku tanamkan sejak dia masih kecil, sehingga buku menjadi salah satu kebutuhan utama Shalom dalam proses belajarnya sehari-hari. Kalau sudah melihat Shalom happy dan betah dengan buku, rasanya tidak sabar menunggu event BBW selanjutnya.. Kapan lagi bisa punya buku-buku bagus dari book author terkenal dan dengan harga yang miring :)
    Continue Reading

    Hubunganku dan Shalom boleh di bilang sangat intim. Ya, kami berdua saling posesif dan semenjak makin jelas berbicara dua arah, Shalom pun sudah bisa mengutarakan apa keinginannya walaupun masih belum sepenuhnya sempurna untuk merangkai kata.

    Tak biasanya Shalom rewel super lebay dan ditanya kenapa sih Shalom nangis ga jelas? Kali ini Shalom diam saja dan tidak menjawab pertanyaanku. 

    Memang sebelumnya aku bilang ke Shalom kalau mama besok pagi akan ke Jakarta dimana ini kali pertama mama ninggalin Shalom ke luar pulau. Keluar kota Duri saja rasanya berat dan penuh drama, apalagi sampai harus ninggalin ke Jakarta..Jadi aku simpulkan dia punya feeling kalau mau ditinggal mamanya pergi dan malam harinya tidur sampai larut malam karena pengen main dengan mama..hehehe...
    Nangis terus sehari sebelum ditinggal mama ke Jakarta

    Traveling kali ini memang tidak direncanakan untuk meninggalkan Shalom, tapi karena Shalom baru sembuh dari sakit..ya akhirnya Shalom harus di tinggal demi kebaikannya juga.

    Yang lucunya, setiap ninggalin Shalom pasti aku ga bisa ajak telepon or video call. Kenapa ga bisa? Karena setiap dengar suara mama atau muka mama pasti anak ini akan histeris dan sulit sekali mendiamkannya dari tangisan. Sudah beberapa kali dicoba, tapi tetap saja anak ini histeris.

    Jadi aku hanya bisa menerima update kabar Shalom via chat dengan Marthin dan menerima foto aktivitas Shalom sepanjang hari. Seriously, ini menyiksa banget...ini kali yah yang namanya rindu berlebihan, sampai tidur malam pun sulit banget (4-5 jam doank sehari, padahal biasanya durasi tidurku 7-8 jam sehari)..

    Bersyukur juga di Jakarta bisa bertemu keluarga besarku dan juga saudaraku yang tinggal di Houston yang kebetulan sedang jalan-jalan ke Jakarta. Mereka cukup berhasil membuat rasa kangenku pada Shalom terobati.





    Kalau kangen sama papa nya Shalom diobati dengan makan-makanan favoritnya kalau jalan-jalan ke Jakarta...hehehe..




    Dua hari tanpa Shalom dan Papa menyadarkan aku betapa berartinya mereka di hidupku. Puji Tuhan untuk semua kebaikan Tuhan selama solo travel kemarin, perjalanan lancar, semua urusan dimudahkan dan yang pasti bisa kembali ke Duri bertemu orang terkasih merupakan ungkapan syukurku pada Tuhan yang begitu baik.



    Continue Reading
    Older
    Stories

    Profile

    Profile

    About me

    Diary Of Shalom Audrey

    working mom who loves her beautiful daughter so much ; romantic wife ; caring and persistence. For sure, she is the happiest mom on earth

    Search This Blog

    Follow Us

    • Twitter
    • Instagram

    recent posts

    Blog Archive

    • ▼  2022 (1)
      • ▼  February 2022 (1)
        • Skincare Journey with Jafra Cosmetic
    • ►  2020 (4)
      • ►  November 2020 (1)
      • ►  June 2020 (1)
      • ►  May 2020 (1)
      • ►  February 2020 (1)
    • ►  2019 (22)
      • ►  December 2019 (1)
      • ►  November 2019 (2)
      • ►  October 2019 (1)
      • ►  August 2019 (2)
      • ►  July 2019 (2)
      • ►  June 2019 (2)
      • ►  May 2019 (5)
      • ►  April 2019 (3)
      • ►  March 2019 (2)
      • ►  February 2019 (2)
    • ►  2018 (42)
      • ►  December 2018 (2)
      • ►  November 2018 (2)
      • ►  October 2018 (3)
      • ►  September 2018 (1)
      • ►  August 2018 (2)
      • ►  July 2018 (6)
      • ►  June 2018 (7)
      • ►  May 2018 (10)
      • ►  April 2018 (8)
      • ►  March 2018 (1)
    • ►  2017 (4)
      • ►  July 2017 (1)
      • ►  June 2017 (3)
    • ►  2016 (16)
      • ►  July 2016 (4)
      • ►  May 2016 (3)
      • ►  April 2016 (6)
      • ►  March 2016 (3)

    Popular Posts

    • 7 Bulanan Adat Batak - PASAHAT ULOS MULA GABE
    • SKINCARE DURING PREGNANCY
    • Beauty Product Review: Laneige Clear C Advanced Effector
    • Trimester 2- Young Living Essential Oils Review

    Visit My Online Shop

    • Houseofcaio

    Total Pageviews

    Member Of :

    Blogger Perempuan
    Twitter Instagram

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top